Gempa
yang mengguncang Haiti menarik perhatian dunia karena paling merusak
dalam dekade ini. Lalu mengapa gempa itu menelan korban yang sangat
besar?
Gempa
yang mengguncang Haiti minggu lalu digambarkan oleh Amerika Serikat
sebagai krisis kemanusiaan terburuk dalam dekade terakhir, dengan
estimasi jumlah korban yang meninggal dunia dalam rentang 50 ribu
hingga 200 ribu jiwa.
Ahli
geologi menjelaskan beberapa alasan mengapa gempa bumi itu menjadi
sangat dahsyat, dan mengingatkan akan datangnya bahaya yang sama,
karena tidak semua energi seismik yang tertahan dilepaskan saat
terjadinya tragedi Haiti.
Gempa
bumi berpusat di sumber yang sangat dangkal sehingga mengakibatkan
waktu peringatan untuk keluar dari gedung lebih sedikit daripada
gempa dalam.
Dan
Port au Prince bangunannya tidak terbentuk dari batuan solid
melainkan dari tanah, sehingga sangat rentan ketika ada goyangan.
Akhirnya standar bangunan yang tidak tahan terhadap gempa besar
menjadi salah satu alasan utama.
Beda
dengan gempa yang terjadi di California, yang jumlah korban jiwanya
lebih kecil. “Bangunan yang lebih baik akan menyelamatkan lebih
banyak nyawa,” uja Chuck DeMets, Ahli Geologi Tektonik dari
Universitas Wisconsin Madison.
Sebuah
perbandingan dengan dua gempa bumi yang hampir sama memberikan latar
belakang terhadap pernyataan tersebut. Dua gempa terjadi di dua
wilayah dengan populasi padat penduduk, tetapi mereka memiliki
perbedaan struktur bangunan.
Pada
tahun 1988, gelombang gempa Spitak sebesar 6,9 SR menghantam Armenia
dan menelan lebih dari 25 ribu nyawa. Kontras dengan gempa sebesar
7,1 SR Loma Prieta di California pada tahun 1989 yang hanya
menyebabkan kematian sebanyak 63 jiwa. “Perbedaan jumlah kematian
fatal diilustrasikan dari efek standar bangunan yang dapat
menyelamatkan nyawa manusia,” ujar DeMets.
Bangunan
bertingkat-tingkat yang sulit di Port au Prince terbukti sebagai
jebakan kematian ketika gempa melanda. “Bangunan yang rapuh dan
tidak fleksibel, membuat rantai malapetaka ketika gempa melanda,”
ujar Ian Main, Seismolog Universitas Edinburgh Inggris.
Dan
dampak gempa menjadi berlipat ganda karena sumber gempa yang sangat
dangkal dan dekat. “Dengan gempa dalam maka gelombang utama datang
terlebih dahulu, memberikan sedikit peringatan sebelum potongan
gelombang utama yang datang dari kedua sisi hadir,” ujar Uri ten
Brink, Ahli Gempa Karibia dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat
di Woods Hole Massachusetts. Di Haiti letak episentrumnya sangat
dekat dengan permukaan di mana gelombang utama dan potongan hadir
hampir di waktu yang bersamaan.
Jadi
bangunan macam apa yang bisa bertahan terhadap jenis gempa tersebut?.
“Ilmuwan menggunakan material yang lebih fleksibel dengan kapasitas
terintegrasi untuk menyerap dampak kerusakan gempa,” ujar Main.
“Hal
ini termasuk penyerap guncangan berbasis isolasi di lantai pertama,
untuk membantu mencegah atau meminimalisir potongan dinamis dan
gerakan berputar.”
Memodifikasi
bangunan konvensional untuk membuat menjadi tahan gempa sangatlah
mahal, tetapi mengkonstruksi bangunan baru yang tahan guncangan lebih
murah.
“Bangunan
tahan terhadap aktivitas seismik menghabiskan beberapa persen lebih
banyak material dan membutuhkan bantuan desainer, tetapi mereka tidak
terlampau berbeda jauh dengan bangunan yang biasanya ada di Haiti,”
ujar Main.

0 komentar:
Posting Komentar