SIANG
itu mentari bersinar cerah, kicau burung sahut- bersahut menyambut
sinar mentari. Burung-burung itu tampaknya bersuka cita, maklumlah
hampir dua hari mentari tak menampakkan kepak gagahnya di Desa
Gunungsahilan, Kampar. Hampir dua hari pula awan hitam selalu
menggumpal di wilayah angkasa desa nanti asri itu.
Perjalanan
kami ke desa itu bermaksud hendak melihat kondisi banjir yang
merendam rumah-rumah penduduk. Saban tahun, desa ini memang menjadi
langganan banjir. Banjir yang terjadi selain karena curah hujan
tinggi, juga karena meluapnya air Sungai Subayang. Bagi masyarakat
tempatan, banjir sepertinya bukanlah menjadi persoalan.
Anak-anak
tampak bersuka cita, mereka mengayuh piyau (sampan, red), mereka
berenang, saling siram-menyiram dengan bahagianya. Sisi lain, tampak
juga beberapa orang masyarakat apakah laki-laki atau perempuan
mencari ikan dengan menggunakan jaring. Dibalik banjir yang terjadi,
ternyata juga Allah SWT memberikan rezeki yang tak terduga.
Gunungsahilan,
sebuah desa yang elok dan asri. Masyarakat ramah-ramah, letaknya
sekitar 40 kilometer dari ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru. Selama
ini, desa tersebut terkenal saat musim hujan tiba, mengapa? Karena
saat musim hujan datang, daerah ini menjadi langganan banjir.
Perjalanan
kami hari itu tiba pada satu tapak kerajaan setempat. Tapak yang
tidak sengaja kami datangi adalah sebuah Istana, masyarakat tempatan
menyebutnya dengan Istana Gunungsahilan. Lokasi, istananya tidak
terlalu jauh dari Kantor Kepala Desa setempat, jika berjalan kaki
mungkin hanya 15 menit perjalanan.
Jangan
dibayangkan, tapak kerajaan atau istana ini berdiri dengan megah
dengan berbagai nuansa keagungannya pada suatu masa lalu. Istana yang
kami datangi tampak ringkih dan uzur, sepertinya istana ini tidak
terawat dengan baik.
Berbagai
sisi bangunan istana tampak rapuh dan ringkih, dinding istana dari
papan tampak menganga dimakan rayap, pada bagian lain, dinding istana
tampak kopak-kopak. Sejauh mata memandang kita akan semakin miris
melihatnya, padahal pada suatu ketika dulu, istana ini menjadi simbol
peradaban di daerah ini.
Sementara,
atap istana terlihat berkarat, bahkan pada bagian tertentu atap-atap
tersudah sudah tanggal. Meskipun begitu kegagahan istana ini masih
tampak. Ia seolah-olah ingin memberi tahu kepada semua orang bahwa
pada suatu dekakde lalu istana ini menjadi tumpuan dan pusat
pemerintahan.
Itu
baru dilihat dari luar, pada bagian dalam istana juga terlihat hal
serupa. Padahal di dalam istana itu masih menyimpan sejumlah
benda-benda bersejarah yang tak ternilai harganya. Ada katil (tempat
tidur), ada lelo (meriam kecil) ada gong serta sejumlah benda-benda
bersejarah lainnya.
Saat
menelusuri istana itu, kami ditemani juru kunci istana Azirman, pria
paruh baya ini sudah puluhan tahun menjadi juru kunci istana.
Menurutnya, beberapa waktu silam, Pemerintah Provinsi Riau melakukan
pembangunan baru istana tepat di belakang istana asli. Sayangnya,
bentuk dan motifnya sangat jauh berbeda dengan bentuk asli sehingga
keturunan kerajaan menolak dan tidak mau menerimanya. Bangunan baru
berbentuk masjid dengan lima kubah itu dibiarkan saja berdiri dan
sesekali dimanfaatkan untuk ruang pertemuan.
Kami
dibawa ke berbagai sudut ruangan, namun yang tampak hanyalah
kesedihan. Sepertinya tidak ada upaya dari pemerintah untuk
memperhatikan istana ini, semuanya dibiarkan, tidak ada kepedulian
dan sekarang istana itu pun renta bersama sang waktu yang terus
berganti.
Sejarah
Kerajaan Kamparkiri
Dalam buku Sejarah Riau yang disusun Wan Galib dkk dalam BAB VI yakni Riau Menghadapi Kolonialisme Belanda, tepat pada halaman 355-357 disebutkan tentang Kerajaan Kamparkiri. Berdirinya kerajaan ini tidak diketahui secara pasti namun salah satu peninggalannya adalah suatu tempat disebut benteng yang menjadi peninggalanbersejarah.
Dalam buku Sejarah Riau yang disusun Wan Galib dkk dalam BAB VI yakni Riau Menghadapi Kolonialisme Belanda, tepat pada halaman 355-357 disebutkan tentang Kerajaan Kamparkiri. Berdirinya kerajaan ini tidak diketahui secara pasti namun salah satu peninggalannya adalah suatu tempat disebut benteng yang menjadi peninggalanbersejarah.
Masyarakat
tempatan menyebut ini sebagai peninggalan sejarah sebelum Islam.
Artinya, kerajaan ini sudah berdiri sebelum agama Islam masuk. Namun
kemungkinan besar perkembangannya berkemungkinan besar baru mencuat
pada awal abad 19 Masehi. Kerajaan Kampar Kiri ini berpusat di
Gunungsahilan yakni kira-kira 5 Km dari Kampung Kebun Durian, Kampar
Kiri, Kabupaten Kampar.
Wilayah
kerajaan ini meliputi dari Muara Linggi (Langgam, kini masuk
Kabupaten Pelalawan) di hilir sampai ke Pangkalan Dua dihulu
(diperkirakan daerah Pangkalan Indarung di Sumatera
Barat).Perkembangan kerajaan ini diperkirakan tergolong lambat sebab
dalam beberapa kali keturunan raja-raja yang memerintah tidak
terdapat perubahan-perubahan yang berarti.
Pada
1905, Tengku Sultan Abdul Jalil bin Yang Dipertuan Hitam yang
menduduki tahta kerajaan, mengirim utusan ke Bengkalis untuk
menyerahkan dan mengaku tunduk kepada pemerintahan Hindia Belanda
dengan tujuan negerinya akan aman dan makmur. Maka 27 Februari 1905
disepakati sebuah perjanjian antara kerajaan Kamparkiri dengan Hindia
Belanda dan setelah itu, kerajaan Kamparkiri merupakan wakil
pemerintahan Hindia Belanda. Kerajaan Kamparkiri langsung diwakili
seorang raja dengan gelar Yang Dipertuan Besar van Gunung Sahilan en
Datuk van het Landschap.
Pada
29 Mei 1907 kembali dibuat perjanjian dengan Hindia Belanda yang
ditandatangani Yang Dipertuan Abdurrahman sebagai pengganti Sultan
Abdul Jalil. Maka dengan perjanjian tersebut, secara administrasi
kekuasaan Kamparkiri diserahkan kepada pemerintah Hindia
Belanda.
Belanda menempatkan seorang controleur sebagai kepala dari pangreh praja di sana dan menurut perjanjian itu bekas kerajaan Kampar Kiri termasuk dalam Zelbestuur.
Belanda menempatkan seorang controleur sebagai kepala dari pangreh praja di sana dan menurut perjanjian itu bekas kerajaan Kampar Kiri termasuk dalam Zelbestuur.
Kerajaan
ini dibagi atas lima kekhlifahan dan kedudukan khalifah tidak
terpusat pada pusat pemerintahan tetapi berkedudukan di daerahnya
masing-masing. Lima kekhalifahan itu antara lain; Datuk Khalifah
Kamparkiri berkedudukan di Gunungsahilan, Datuk Bendahara Khalifah
Kuntu berkedudukan di Kuntu, Datuk Bendahara Khalifah Ujung Bukit
berkedudukan di Ujung Bukit, Datuk Gedang Khlaifah Batu Sanggam
berkedudukan di Batu Sanggam, serta Datuk Marajo Besar Khalifah Ludai
berkedudukan di Ludai.
Kerajaan
Kamparkiri kemudian disebut dengan Kerajaan Gunungsahilan yang semula
meliputi 25 negeri, berkembang menjadi 30 negeri. Pada 1930 Maha
Mulia Tengku Sulung yang bergelar Tengku Yang Dipertuan Besar dan
Yang Maha Mulia Tengku Haji Abdullah bergelar Tengku Yang Dipertuan
Sakti ditabalkan sebagai raja. Perhelatan besar dilaksanakan dengan
memotong beberapa ekor kerbau tiap-tiap orang dari khalifah yang
berlima.
Pembangunan
di masa pendudukan Belanda arah pembangunan negeri hanya untuk
kepentingan Belanda seperti pembangunan kantor pos, kantor kontreleur
dan sekolah. Sedangkan istana sultan dibangun sekedar mengambil hati
sultan agar kerajaan tersebut tetap setia pada Hindia Belanda. Salah
seorang keturunan Tengku Sulung yakni Tengku Arifin bin Tengku Sulung
menjelaskan, hingga hari ini masih ada tapak-tapak sejarah yang
terabaikan seperti kandang kuda, sekolah perpolof school, asrama
polisi, pesanggrahan, penjara, kantor markoni/berita dan kantor
raja/merah.
Bernama
Gunungibul
Pada mulanya, Gunung Sahilan bernama Gunungibul. Letak perkampungannya, berjarak satu kilometer dari kampung sekarang ini. Di kawasan Gunungibul itu, masih terdapat beberapa bekas situs sejarah yang juga tidak terawat dan nyaris hilang sejak perkebunan kelapa sawit menjamur di sepanjang Sungai Kampar. Di masa Gunungibul, atau Kerajaan Gunungsahilan Jilid I, masyarakat masih beragama Budha, dibuktikan dengan bekas-bekas kandang babi dan tapak-tapak benteng.
Pada mulanya, Gunung Sahilan bernama Gunungibul. Letak perkampungannya, berjarak satu kilometer dari kampung sekarang ini. Di kawasan Gunungibul itu, masih terdapat beberapa bekas situs sejarah yang juga tidak terawat dan nyaris hilang sejak perkebunan kelapa sawit menjamur di sepanjang Sungai Kampar. Di masa Gunungibul, atau Kerajaan Gunungsahilan Jilid I, masyarakat masih beragama Budha, dibuktikan dengan bekas-bekas kandang babi dan tapak-tapak benteng.
Beberapa
keturuna raja terakhir, Tengku Yang Dipertuan (TYD) atau lebih sering
disebut Tengku Sulung (1930-1941) seperti Tengku Rahmad Ali dan Utama
Warman, kerajaan Gunungsahilan Jilid I diawali dengan Kerajaan
Gunungibul yang merupakan kerajaan kecil. Menurut penuturan nenek
moyang dan orangtua mereka, Kerajaan Gunungibul ada setelah runtuhnya
kerajaan Sriwijaya. Pembesar-pembesar istana berpencar satu persatu
dan mulai mendirikan kerajaan-kerajaan kecil, salah satunya di
kawasan Gunungibul.
“Cerita
soal Kerajaan Gunungibul memang tidak memiliki bukti kuat seperti
kerajaan Gunungsahilan sekarang. Sebab kami mendapatkannya dari
cerita secara turun-temurun tapi kami percaya karena memang
bukti-buktinya masih ada,” ungkap Tengku Rahmad Ali yang tinggal di
sisi kanan, luar pagar komplek istana.
Diakui
keduanya, cerita tentang Gunungibul hanya sedikit sekali sehingga
mereka terus berupaya untuk mencari lebih dalam lagi untuk bisa
disambungkan dengan Kerajaan Gunung Sahilan. Baik Tengku Rahmad Ali,
Utama Warman dan Tengku Arifin bin Tengku Sulung memulai kisah awal
kerajaan Gunungsahilan karena terjadinya keributan antar orang
sekampung. Tidak jelas sebab musabab terjadinya keributan itu, yang
pasti keributan mereda setelah tetua adat dan para khalifah
bersepakat untuk mencari seseorang untuk di-raja-kan di
Gunungsahilan.
Pilihan
mereka jatuh kepada Kerajaan Pagaruyung yang saat itu sedang dalam
menuai masa keemasannya. Namun perlu diingat, kata mereka, bahwa
sebelum kerajaan jilid II terbentuk, masyarakatnya sudah heterogen
atau gabungan dari beberapa pendatang, baik dari Johor Baharu
(Malaysia) dan orang-orang sekitar negeri seperti Riau Pesisir,
Sumatera Utara, Sumatera Barat dan sebagainya. Penduduk asli kampung
bersuku domo, sedang enam suku lainnya merupakan pendatang yang
beranak-pinak di sana. Meski harus diakui, masih banyak versi lain
mengenai sejarah kerajaan tersebut dengan perbedaan-perbedaan yang
tidak terlalu jauh.
“Seperti
kami dari suku Melayu Darat dan Melayu Kepala Koto adalah pendatang
dari Johor, begitu juga suku lainnya, kecuali domo,’’
ujarnya.
Ditambahkan Tengku Arifin, mengapa pilihan jatuh ke Pagaruyung karena saat itu, kerajaan itu terlihat cukup menerapkan sistem pemerintahan yang demokrasi. Karenanya, diutuslah tetua atau bangsawan Gunungsahilan untuk meminta anak raja dan di-raja-kan di Gunungsahilan. Anak raja pertama dan kedua meninggal saat disembah seluruh masyarakat. Keadaan negeri menjadi tidak menentu dan diutuslah seorang untuk datang ke Pagaruyung mencari siapa yang pantas dirajakan di Negeri Gunungsahilan.
Ditambahkan Tengku Arifin, mengapa pilihan jatuh ke Pagaruyung karena saat itu, kerajaan itu terlihat cukup menerapkan sistem pemerintahan yang demokrasi. Karenanya, diutuslah tetua atau bangsawan Gunungsahilan untuk meminta anak raja dan di-raja-kan di Gunungsahilan. Anak raja pertama dan kedua meninggal saat disembah seluruh masyarakat. Keadaan negeri menjadi tidak menentu dan diutuslah seorang untuk datang ke Pagaruyung mencari siapa yang pantas dirajakan di Negeri Gunungsahilan.
“Saat
itu, utusan negeri mendapatkan kabar dan melihat langsung bahwa anak
raja yang bisa di-raja-kan di sini yang berkulit hitam dan kurang
molek rupanya. Setelah mendapat izin, anak itu dibawa ke
Gunungsahilan dan di-raja-kan. Karena masih kecil anak itu tidak
datang sendiri tetapi membawa pembesar istana lainnya ke negeri ini.
Saat itu pula mulailah disusun, peraturan pemerintahan, termasuk
adat-istiadat raja-raja jadilah sekarang garis keturunan di negeri
ini berdasarkan ibu atau matrilineal,” tutur Tengku Arifin panjang
lebar.
Sejak
saat itu, raja-raja yang diangkat bukan anak kandung raja melainkan
keponakannya. Berturut-turut raja yang pernah didaulat di Kerajaan
Gunungsahilan antara lain Raja I (1700-1740) Tengku Yang Dipertuan
(TYD) Bujang Sati, Raja II (1740-1780) TYD Elok, Raja III (1780-1810)
TYD Muda, Raja IV (1810-1850) TYD Hitam. Khusus raja keempat tidak
didaulat seperti raja sebelumnya sebab TYD Hitam bukan anak kemenakan
raja Muda, melainkan anak kandungnya. Namun TYD Hitam sebagai
pengemban amanah memimpin selama kurang lebih 40 tahun. Raja V
(1850-1880) TYD Abdul Jalil, Raja VI (1880-1905) TYD Daulat, Raja VII
(1905-1930) Tengku Abdurrahman dan Raja VIII atau terakhir TYD Sulung
atau Tengku Sulung (1930-1941).
“Kerajaan
ini tidak pernah berperang dengan Belanda dan kami tidak merasakan
bagaimana kejamnya akibat penjajahan itu. Pihak kerajaan dan Belanda
bahkan membuat kesepakatan untuk tidak saling mengganggu. Hanya saja,
di masa pendudukan Jepang kerajaan ini dibekukan dan diganti dengan
distrik,” kata mantan guru tersebut.
Kini
sang waktu terus menapak hari. Istana itu masih seperti kemarin,
hujan-panas menjadi dendang dan dondang, namun istana itu tetap
ringkih dan rapuh. Haruskah ini dibiarkan?

0 komentar:
Posting Komentar